Jakarta (8/7) LDII pada 13-15 Mei mendatang akan melaksanakan Rapat Pimpinan
Nasional (Rapimnas) yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja organisasi, yang
programnya telah disusun pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Bogor, Jawa
Barat, pada Maret 2011 silam. Rapimnas yang diadakan menjelang pemilihan presiden
ini digunakan LDII untuk sekaligus menyampaikan aspirasi dan program kerja
kepada calon presiden.
“Ormas bukanlah organisasi yang memiliki hasrat
kompetisi, ormas lebih netral dalam melihat persoalan negara dan lebih dekat
dengan apa yang dihadapi masyarakat. Dengan begitu kami memiliki solusi untuk
memecahkan masalah bangsa,” ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo yang
sekaligus menjabat Ketua Panitia Pengarah Rapimnas DPP LDII. Untuk itulah LDII
berkepentingan mengundang para calon presiden untuk saling bertukar pikiran
memaparkan visi misi untuk kemajuan Indonesia.
LDII melihat pascareformasi, demokrasi Indonesia
justru menciptakan anomali dalam kehidupan berbangsa bernegara. Indonesia yang
dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, bergotong royong, tenggang rasa,
dan saling menghormati kini malah dikenali sebagai bangsa yang elit politiknya
gemar saling hujat di media massa. Di tingkat akar rumput mulai tumbuh
benih-benih tak mentolelir perbedaan dan main hakim sendiri.
Wakil Ketua Panitia Pengarah sekaligus Ketua DPP LDII
Chriswanto Santoso melihat rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada elit
politik maupun kepada pemerintah, diakibatkan rendahnya pembangunan pembangunan
karakter dan rendahnya moralitas bangsa. “Bila generasi muda saat ini dianggap
tak memiliki karakter, maka LDII telah menyiapkan pembinaan dan pembentukan
karakter bangsa melalui program Penggerak Pembina Generasi Penerus (PPG),” ujar
Chriswanto.
PPG memiliki kurikulum yang dirancang oleh para ulama,
psikolog, pakar pendidik, dan orangtua untuk menciptakan kurikulum yang
ditujukan untuk melahirkan generasi penerus yang unggul sisi karakter,
moralitas, termasuk kapasitas dalam berkarya. Tiga target pembinaan generasi
muda adalah pertama, memiliki kemandirian sehingga tak memiliki ketergantungan
kepada pihak lain, kedua memiliki ilmu agama dan dunia, ketiga memiliki akhlaqul karimah atau akhlak mulia.
“Pemimpin yang memiliki tiga karakter tersebut tak akan terombang-ambing dalam
dinamika geopolitik, bahkan sebaliknya, mampu membawa nilai-nilai positif
keindonesiaan sebagai bangsa,” ujar Chriswanto.
Berbagai hal yang telah dikerjakan LDII dalam
menghadapi masalah sosial dan kebangsaan itulah yang dijadikan program kerja
yang ditawarkan kepada para capres. “Bila Rapimnas 2004 LDII menyodorkan
program untuk perbaikan bangsa, bedanya, program LDII dalam Rapimnas 2009 lebih
tajam karena telah dijalankan oleh LDII sekaligus ditunjang oleh kajian Dewan
Pakar DPP LDII dan diolah dalam Focus Group Discussion (FGD),” imbuh
Chriswanto. Sepanjang April hingga Mei LDII telah melakukan 11 FGD di antaranya
mengenai ketahanan dan kedaulatan pangan, energi, lingkungan, PPG, kedaulatan
maritim, Pramuka, dll.
Rapimnas untuk
Indonesia yang Lebih Bermartabat
Rapimnas yang akan dihadiri sekitar 1.200 peserta yang
terdiri dari para ulama, dewan penasehat, pengurus Dewan Perwakilan Pusat
(DPP), Dewan Perwakilan Wilayah dari 34 provinsi, dan Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) dari 350 lebih provinsi dari seluruh Indonesia. Rapimnas DPP LDII
mengambil tema Kepemimpinan Profesional-Religius Untuk Mewujudkan Indonesia
yang Semakin Bermartabat. Akan dibuka oleh Menteri Agama Suryadharma Ali, dan
dihadiri oleh Panglima TNI Moeldoko untuk memberi pembekalan, para capres,
Polri, tokoh pers, dll.
Selain mengevaluasi pelaksanaan program mewujudkan
sumberdaya manusia yang profesional religius, Rapimnas LDII mengukuhkan dua hal
pokok: pertama, mengenai sikap netral aktif LDII dalam percaturan politik
Indonesia, dan kedua untuk mengukuhkan eksistensi dalam membangun SDM yang
profesional religius. “Netral aktif adalah LDII dalam hal ini tidak terlibat
langsung dalam politik praktis, tapi LDII juga tak mau jadi obyek dari politik
atau sistem kenegaraan,” ujar Chriswanto. Untuk itulah LDII memanfaatkan
momentum Rapimnas untuk memberikan masukan kepada calon presiden terkait
kondisi-kondisi bangsa serta kondisi masyarakata berdasarkan kajian-kajian
LDII.
Menurut Prasetyo, Rapimnas ini mejadi perkenalan
antara LDII dengan calon pemimpin negara lima tahun mendatang. Rapimnas selain
mengvaluasi berbagai program, juga menyampaikan dan memaparkan kontribusi
sosial LDII di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya serta lingkungan,
“LDII memiliki berbagai kontribusi, dari karya lembaga, struktural, kelompok,
hingga individu. Rapimnas ini menjadi ajang untuk memperkenalkan apa yang sudah
dilakukan LDII kepada bangsa dan negara Indonesia,” ujar Prasetyo Soenaryo.
Menurutnya karya-karya tersebut harus diketahui oleh sesama warga LDII juga
oleh rakyat Indonesia, dengan demikian LDII tak hanya menjadi milik pengurusnya
saja, tapi juga warganya.
Menurut Prasetyo Soenaryo kontribusi sosial ormas
pasca reformasi merupakan keniscayaan, bahkan harus ditingkatkan. Hal itu
disebabkan setiap pemimpin memiliki kewajiban untuk melaksanakan amanah
pembukaan UUD 1945, namun ketika presiden sudah tak lagi menjadi mandatari MPR
dan di saat yang bersamaan Indonesia tak lagi menjalankan Garis Besar Haluan
Negara (GBHN), maka ormas harus berperan lebih aktif.
“Tanpa peran aktif ormas, parpol yang kemudian
menempatkan eksekutif dan legislative akan menjalankan negara dengan logika
politiknya yang belum tentu menyejahterakan rakyat. Untuk itu, tanpa GBHN yang
dibuat MPR, maka ormas harus pro aktif menyampaikan aspirasinya berdasarkan
temuan di lapangan dalam bentuk kegagalan, keberhasilan, dan kebutuhan
pembangunan. Agar capres ini mengerti apa sih
kebutuhan rakyatnya,” papar Prasetyo Soenaryo.
Pesan LDII kepada seluruh capres adalah mereka harus
peduli dengan pembangunan akhlak bangsa untuk membentuk karakter bangsa. Sebab
saat ini, menurut Prasetyo, sebagian rakyat Indonesia kian menjauh dari
falsafah dan dasar negara dalam bentuk Pancasila. Arus modernisasi yang diikuti
westernisasi membuat bangsa Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai sebuah
bangsa, “Saling menghormati, gotong royong, tepo
seliro semakin ditanggalkan berubah menjadi individualistis dan
mementingkan diri sendiri. Hal ini bbahkan terbawa dalam kehidupan berpolitik,”
ujar Prasetyo.
Pembangunan karakter dan moral bangsa ini menurut DPP
LDII tak boleh sekadar retorika atau wacana, namun harus dipraktikkan alias
membumi. Perilaku elit politik dalam legislatif yang mementingkan diri sendiri
dan jauh dari kebutuhan rakyat, mengakibatkan produk undang-undang yang
dihasilkan tak sepenuhnya menjalankan pembukaan UUD 1945, yang menyatakan
negara ini dibangun untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan
rakyatnya, “Bahkan produk UU pascareformasi menguntungkan pihak asing,” ujar
Prasetyo Soenaryo. Calon eksekutif dan legislative masa mendatang harus mampu
mengevaluasi berbagai perundangan yang justru bertentangan dengan tujuan
pendirian NKRI.
DPP LDII dalam
Rapimnas ini mengharapkan presiden dan legislator yang baru nanti memperhatikan
dan memperjuangkan lima sektor, antara lain: 1. Terwujudnya kedaulatan pangan
dan energi; 2. Terwujudnya kedaulatan finansial; 3. Terwujudnya kedaulatan
teritorial; 4. Terwujudnya kedaulatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
“Kedaulatan menjadi sangat penting karena pascareformasi, iptek
termarjinalisasi oleh hiruk pikuk politik. Padahal negara yang baru maju
seperti Indonesia dihargai bukan karena demokrasinya tapi karena kemampuan
ipteknya. Negara maju di seluruh dunia, mengutamakan teknologi. Proses demokrasi tanpa penguasaan teknologi, negara akan sulit menyejahterakan rakyatnya,” ujar Prasetyo Soenaryo.
Menurutnya negara demkratis adalah negara
berteknologi. Demokrasi harus melahirkan peningkatan dan penguasaan teknologi,
bila tidak demokrasi hanya untuk demokrasi, hanya utuk sekadar memenuhi
prodesur negara demokrasi. Padahal kemakmuran rakyat merupakan produk energi,
“Swasembada pangan bisa diraih dengan teknologi pertanian, kemandirian energi
bisa diraih dengan teknologi energi. Untuk itu LDII mengajak berhenti untuk
mempolitisasi pangan dan energy,” ujar Prasetyo.
Tanpa penguasaan energi, selamanya bangsa ini
akan selalu ribut dengan urusan pencabutan subsidi Bahan Bakar Minyak.
Negara-negara maju karena menguasai teknologi energi, relative tidak bergolak
ketika harga minyak bumi naik, “Karena mereka terus melakukan inovasi untuk
menghemat energi atau terus inovasi dengan energi alternatif,” ujar Prasetyo.
Negara selama ini tak memiliki upaya untuk menyeimbangkan supply and demand dalam urusan energi. “Bangsa Indonesia seperti
tidak memahami bahwa energi komoditas strategis bukan politis. Bila bangsa ini
memahami energi adalah komoditas strategis, pemerintah akan selalu melakukan
inovasi untuk menghemat energy, bukan ribut dan sibuk urusan subsidi dan tidak
subsidi,” kata Prasetyo Soenaryo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar